Perempuan menjadi pemimpin di negeri ini, tidak masalah sudah dibuktikan dengan adanya Cut Nyak Dien, Dewi Sartika yang kala itu memimpin perang demi terbebasnya negeri ini dari belenggu penjajah. Selain itu adapula R.A Kartini sebagai revolusi  perempuan yang menerapkan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia yang mana pada saat itu perempuan di Indonesia banyak yang  belum mencakup dunia pendidikan , dan jasa-jasa dari perjuangan beliau masih kita rasakan hingga saat ini. Di Indonesia keterwakilan perempuan di tataran eksekutif ataupun legislatif terbilang hanya sedikit dibandingkan dengan kaum patriarki (kaum laki-laki), hal tersebut terjadi dikarenakan  adanya  nilai budaya yang sudah mendarah daging di Indonesia, sehingga banyak stereotipe tentang perempuan yang beranggapan bahwa perempuan tidak mampu atau tidak ada peluang untuk berpotensi  misalnya dalam hal membuat kebijakan. Tapi apabila kita tinjau kembali, sesuai dengan perkembangan zaman saat ini di Indonesia  perempuan mempunyai dua peran ganda sekaligus yaitu mereka tidak hanya mengurusi domestifikasi sosial  atau hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga saja tapi mereka juga ikut terlibat dalam tataran eksekutif ataupun legislatif. Sayangnya, porsi untuk perempuan sendiri pada tataran legislatif hanya 30% sesuai dengan UU partai politik no 2 tahun 1998 dan UU pemilu no 10 tahun 2008. Sedangkan pada tataran eksekutif sendiri yaitu pada jajaran kementrian porsi perempuan sendiri  terbilang hanya sedikit, hanya ditempatkan dengan potensi yang hanya kaum perempuan berpeluang pada bidang tertentu diantaranya menteri di bidang pemberdayaan perempuan ataupun menteri di bidang kesehatan.  Dengan terpilihnya Megawati Soekarnoputri selaku orang pertama pada saat itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perempuan mempunyai  hak dan peluang yang sama untuk memimpin.

Semoga perjuangan perempuan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun. ^^,