Kenapa tertarik dengan ilmu kelautan ?…

Terlintas  dalam benak saya, ketika membuka informasi dibuku panduan SNMPTN 2008 saya melihat Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran, program studi ini tidak terlalu banyak diminati oleh peserta SNMPTN pada umumnya hal tersebut dikarenakan sebagian besar mereka berpandangan dalam prospek ke depannya. Menurut saya sangat disayangkan apabila kita berfikir setelah lulus mendapat gelar Sarjana Kelautan mau jadi apa?. Lapangan pekerjaan bagi Sarjana Kelautan di Indoenesia memang terbilang masih sangat minim. Tapi apabila kita tinjau kembali kita bisa memajukan aspek industri di Indonesia dalam pengolahan biota laut , karena Indonesia merupakan negara maritim dimana potensi kekayaan alam dari sumber daya laut yang terdapat di negara kita sangat melimpah ruah dan seharusnya dapat dimanfaatkan serta dilestarikan mulai sejak dini. Sangat disayangkan sekali apabila hasil dari potensi laut kita secara ilegal dinikmati oleh pihak asing. Alasan saya memilih program studi Ilmu Kelautan, karena saya melihat kondisi realita yang terjadi pada laut Indonesia yang sangat kurang optimal dalam segi pengelolaan dan pelestariannya. Selain itu, adapula dalam segi sosial ekonomi dimana tingkat kesejahteraan masyarakat pesisir terutama nelayan terbilang masih rendah dibandingkan dengan petani kebun. Maka dari itu, selama saya masih menempuh pendidikan tinggi saya berusaha dengan semaksimal mungkin dimana ilmu yang saya terima bisa diterapkan, diaplikasikan ke lapangan dan masyarakat pesisir. Dimana hal tersebut sesuai dengan tridharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

BLOG Budidaya laut

Kapan Mulai?
Budidaya laut mempunyai sejarah yang panjang sejak 2.000 tahun sebelum Masehi ketika orang di Jepang memulai pemeliharaan tiram laut (oyster). Dari literatur diketahui, bahwa Cina sudah memelihara ikan di air asin sejak 475 sebelum Masehi dan budidaya tiram laut di Junani sejak 100 tahun sebelum Masehi.
Budidaya rumput laut yang menurut sejarahnya diteliti sejak abad ke 18 pada Ekspedisi Sibolga oleh pemerintah Hindia Belanda (1890-1900), berhasil mengidentifikasi kurang lebih 550 jenis rumput laut di perairan laut Indonesia.Rumput laut merupakan aset ekonomi negara yang dapat dimanfaatkan menjadi sumber pangan dan sumber energi yang dapat diandalkan untuk menghasilkan devisa negara.
Untuk Budidaya rumput laut dilakukan pada saat musim kemarau bukan musim penghujan, hal ini dikarenakan dalam saat pemanenan diperlukan sinar matahari yang optimal pada saat pengeringan.
Mengapa?
Untuk mengurangi penangkapan ikan yang overfishing, dengan melakukan budidaya laut tidak hanya melakukan produksi namun menjaga kelestarian ekosistem laut, dapat menciptakan usaha dan lapangan kerja yang baru, menghasilkan komoditi ekspor dalam rangka meningkatkan devisa negara. Selain itu untuk mengefisienkan dan mengefektifkan
Pengertian:
Budidaya laut merupakan upaya rekaya lingkungan perairan untuk menghasilkan suatu komoditas atau bisa didefinisikan  sebagai upaya pengembangan potensi dari sumber daya alam dalam area terbatas baik itu terbuka ataupun tertutup
Ruang Lingkup :
Oseanografi Fisika (Gelombang, arus, pasut)
Oseanografi kimia (Suhu, pH, salinitas, mineral anorganik)
Oseanografi biologi (sebaran nutrien)
sosial – ekonomi (pemberdayaan ke masyarakat pesisir/petani, pengelolaan produksi, management pemasaran)
management lingkungan
Jenis – jenis konstruksi :
Jenis-jenis teknik budidaya yaitu  bagan tancap, tambak, rakit gantung
Proses Kegiatan
Pre-Budidaya
SDM
Ini adalah hal terpenting yang harus dipikirkan apabila kita ingin melakukan suatu kegiatan budidaya laut ini,  karena tanpa sumber daya manusia yang ada mustahil kita bisa melakukan budidaya. Biasanya SDM yang kita manfaatkan adalah warga sekitar lokasi budidaya berada yang tidak mempunyai pekerjaan tetap, sehingga dapat menciptakan lapangan kerja baru bagi mereka. Dalam hal ini SDM yang di perlukan untuk budidaya rumput laut sekitar 10 orang untuk manajemen, 10 orang untuk urusan teknis dalam budidaya, dan 10 orang untuk urusan produksi rumput laut skala menengah, lalu bagian administrasi 10,  total SDM yang di perlukan sekitar 40 orang.
Modal
Dalam melakukan budidaya laut diperlukan modal yang tidak sedikit, sehingga diperlukan kejelian dan manajemen yang baik agar bisa mendapatkan modal yang cukup untuk melakukan budidaya laut, karena biasanya pihak yang meminjamkan modal ( bank, koperasi, swasta ) menginginkan proposal pengajuan modal yang real dan sesuai dengan apa yang akan dilakukan saat budidaya nanti.
Jenis Organisme yang akan dibudidayakan
Jenis organisme yang akan dibudayakan adalah rumput laut jenis eucheuma sp, jenis ini sebelumnya sudah banyak di budidayakan oleh masyarakat, sehingga kita tidak usah lagi mencari refrensi tentang budidaya Euchema sp, cukup mengumpulkan data dari nelayan yang pernah berbudidaya jenis rumput laut ini.
LokasiTeknik / Metode
Penanaman metode Rakit Apung adalh metode yang tepat untuk budidaya rumput laut ini. Penanaman dengan metoda rakit ini menggunakan rakit apung yang terbuat dari bambu berukuran antara (2,5 x 2,5 ) meter persegi sampai (7 x 7) meter persegi tergantung pada kesediaan bahan bambu yang dipergunakan. Untuk penahanan supaya rakit tidak hanyut terbawa arus, digunakan jangkar sebagai penahanan atau diikat pata patok kayu yang ditancapkan di dasar laut . Pemasangan tali dan patok harus memperhitungkan faktor ombak, arus dan pasang surut air. Metoda rakit cocok untuk lokasi dengan kedalaman 60 cm.
Budidaya
Monotoring organisme, bibit,  alat rekonstruksi, lingkungan
Penyediaan benih Eucheuma sp relatif mudah, karena tersebar di sepanjang perairan pantai dan dapat diperbanyak secara generatif dan vegetatif.
Di dalam usaha budidaya bibit yang baik merupakan suatu persyaratan yang harus dipenuhi, karena akan menyangkut segi pemasaran dan kelangsungan usaha budidaya itu sendiri, sehingga tidak akan merugikan petani/nelayan karena kandungan biota karagenan yang rendah diperlukan persyaratan bibit sebagai berikut :
Mempunyai angka pertumbuhan harian baik, yang menyangkut masa panen produksi yang menguntungkan.
Keadaan biologi yang baik sehingga mempunyai kadar kandungan yang karagenan yang tinggi yang nantinya akan merupakan jaminan pemasaran yang baik.
Ciri bibit yang baik :
1. Bibit tanaman harus muda
2. Bersih dan
3. Segar.
Pembesaran
Pasca-Budidaya
Panen
Setelah melakukan kegiatan budidaya rumput laut jenis Eucheuma sp, kegiatan panen merupakan kegiatan akhir dalam kegiatan budidaya ini dimana rumput laut siap dipanen pada umur 1 – 1.5 bulan setelah tanam.
Untuk panen budidaya rumput laut ini, rumpu laut harus dikeringkan terlebih dahulu, sehingga sebaiknya panen dilakukan pada pagi hari.Hal ini bertujuan untuk mengurangi kerusakan kualitas sebelum dijemur kembali keesokan harinya.(Anonim.2010).
Pasca Panen
Penanganan Pasca Panen
Penanganan pasca panen pada budidaya rumput laut ini meliputi pencucian, pengeringan, pembersihan kotoran atau garam (sortasi), pengepakan, pengangkutan, penyimpanan, serta pemasaran.
Pencucian
Untuk rumput laut jenis Eucheuma sp dicuci dengan air laut sebelum diangkat kedarat.
Pengeringan
Pengeringan disini dilakukan dengan menjemur tanpa bantuan alat, hal ini dikarenakan lebih praktis dan murah.Rumput laut yang sudah dicuci dijemur di atas bamboo atau plastic sehingga tidak terkontaminasi oleh tanah maupun pasir.Pada kondisi panas matahari yang optimal, rumput laut akan kering dalam waktu 3-4 hari.Rumput laut tidak boleh terkena air tawar, baik air hujan maupun air embun.
Pembersihan Kotoran / garam (sortasi)
Dalam membersihkan kotoran  yang masih menempel dilakukan Pengayakan menempel. Sortasi adalah  pembuangan kotoran yang menempel dan rumput laut jenis lain yang tidak dikehendaki.
Pengepakan
Pengakutan
Penyimpanan
Pemasaran
Nama anggota kelompok :
Shifa Dhini 23021008004
Dwijayanti Arum Sari 230210080036
Rama Wijaya 230210080050
Indriani 230210080061
Furkon 230210080062

Tugas Budidaya Laut

Sejarah

Budidaya laut mempunyai sejarah yang panjang sejak 2.000 tahun sebelum Masehi ketika orang di Jepang memulai pemeliharaan tiram laut .

Ruang lingkup budidaya laut

Oseanografi, sosial ekonomi, management lingkungan

Definisi dari budidaya laut

Budidaya laut merupakan upaya rekaya lingkungan perairan untuk menghasilkan suatu komoditas atau bisa didefinisikan  sebagai upaya pengembangan potensi dari sumber daya alam dalam area terbatas baik itu terbuka ataupun tertutup

Mengapa melakukan budidaya laut

Karena untuk menjaga kelestarian ekosistem laut, dapat menciptakan usaha dan lapangan kerja yang baru, menghasilkan komoditi ekspor dalam rangka meningkatkan devisa negara.

Jenis-jenis konstruksi budidaya laut

Karamba jaring apung, bagan tancap,

Pra-budidaya laut

Sumber daya manusia, modal,jenis organisme yang akan dibudidaya, pasar, teknik budidaya

Budidaya

Monitoring lingkungan & organisme, pakan, pembibitan, pembesaran

Pasca budidaya laut

Teknik pemanenan, kontroling produksi, management pemasaran

Nama     : Indriani

NPM       : 230210080061

Kepemimpinan Perempuan Indonesia di Kancah Perpolitikkan

Perempuan menjadi pemimpin di negeri ini, tidak masalah sudah dibuktikan dengan adanya Cut Nyak Dien, Dewi Sartika yang kala itu memimpin perang demi terbebasnya negeri ini dari belenggu penjajah. Selain itu adapula R.A Kartini sebagai revolusi  perempuan yang menerapkan pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia yang mana pada saat itu perempuan di Indonesia banyak yang  belum mencakup dunia pendidikan , dan jasa-jasa dari perjuangan beliau masih kita rasakan hingga saat ini. Di Indonesia keterwakilan perempuan di tataran eksekutif ataupun legislatif terbilang hanya sedikit dibandingkan dengan kaum patriarki (kaum laki-laki), hal tersebut terjadi dikarenakan  adanya  nilai budaya yang sudah mendarah daging di Indonesia, sehingga banyak stereotipe tentang perempuan yang beranggapan bahwa perempuan tidak mampu atau tidak ada peluang untuk berpotensi  misalnya dalam hal membuat kebijakan. Tapi apabila kita tinjau kembali, sesuai dengan perkembangan zaman saat ini di Indonesia  perempuan mempunyai dua peran ganda sekaligus yaitu mereka tidak hanya mengurusi domestifikasi sosial  atau hal-hal yang berkaitan dengan rumah tangga saja tapi mereka juga ikut terlibat dalam tataran eksekutif ataupun legislatif. Sayangnya, porsi untuk perempuan sendiri pada tataran legislatif hanya 30% sesuai dengan UU partai politik no 2 tahun 1998 dan UU pemilu no 10 tahun 2008. Sedangkan pada tataran eksekutif sendiri yaitu pada jajaran kementrian porsi perempuan sendiri  terbilang hanya sedikit, hanya ditempatkan dengan potensi yang hanya kaum perempuan berpeluang pada bidang tertentu diantaranya menteri di bidang pemberdayaan perempuan ataupun menteri di bidang kesehatan.  Dengan terpilihnya Megawati Soekarnoputri selaku orang pertama pada saat itu, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa perempuan mempunyai  hak dan peluang yang sama untuk memimpin.

Semoga perjuangan perempuan tidak akan pernah berhenti sampai kapanpun. ^^,

Daftar Istilah

Adaptasi : cara bagaimana organisme menyesuaikan diri terhadap lingkungan yang berubah dan                                                                     dapat  mengatasi  tekanan lingkungan sekitarnya untuk bertahan hidup

Adaptasi Fisiologi : adaptasi yang meliputi fungsi alat-alat tubuh

Adaptasi Morfologi : adaptasi yang meliputi bentuk tubuh

Adaptasi Tingkah Laku : adaptasi berupa perubahan tingkah laku

Biogeokimia : pertukaran atau perubahan yang terus menerus, antara komponen biosfer yang hidup dengan tak hidup

Biological Nitrogen Fixationf (fiksasi Nitrogen) : proses alamiah dimana nitrogen (N 2) di atmosfer diubah menjadi amonia

Biosfer : tingkat organisasi biologi terbesar yang mencakup semua kehidupan di bumi dan adanya interaksi antar lingkungan fisik secara keseluruhan

Diversitas : keanekaragaman

Ekologi : suatu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya.

Ekosistem                             : satuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi organisme hidup dengan lingkungannya.

Ekosistem mangrove   : suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang  mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya

Emigrasi : peristiwa ditinggalkannya suatu daerah oleh satu atau lebih organisme, sehingga populasi akan menurun.

Evolusi : perubahan pada sifat-sifat terwariskan suatu organisme dari  satu generasi ke generasi berikutnya.

Erosi : proses terjadinya pengikisan tanah yang diipengaruhi oleh angin, air

Faktor Abiotik :  faktor tak hidup yang meliputi faktor fisik dan kimia.

Faktor biotic : faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan

Feeding ground : tempat mencari makan organisme

Habitat : tempat tinggal atau tempat hidup suatu organisme

Harvesting : pengumpulan, atau mengumpulkan dan menyimpan, air hujan

Herbivora                           : hewan pemakan tumbuhan

Hutan mangrove :  sebutan umum yang digunakan untuk menggambarkan suatu

varietas komunitas pantai tropik yang didominasi oleh beberapa -pohon yang khas atau semak-semak yang mempunyai kemampuan untuk tumbuh dalam   perairan asin

Individu : kehidupan yang saling berinteraksi, saling menunjang atau saling berpengaruh dan membentuk satu tubuh

Imigrasi : pengenalan suatu organisme baru ke dalam suatu habitat atau populasi.

Intrusi : Penurunan aliran air tawar yang masuk ke laut menyebabkan interface bergerak ke dalam tanah dan menghasilkan intrusi air asin ke dalam

Karnivora : hewan pemakan daging

Komunitas : kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain.

Laut tropis : laut yang memiliki intensitas cahayanya optimal dan memiliki tingkat produktivitas yang tinggi

Leaching : proses pelarutan selektif dimana hanya logam-logam tertentu yang dapat larut.

Lentisel : bentuk pori-pori yang menonjol yang terbentuk pada cabang-cabang berkayu

Maladaptasi : organisme yang tidak mampu beradaptasi akan menghadapi kepunahan   atau kelangkaan jenis

Migrasi : peristiwa berpindahnya suatu organisme dari suatu tempat ke tempat lainnya yang lebih sesuai agar mudah beradaptasi

Organisme autotrof : organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun (klorofil).

Organisme Heterotrof : organisme yang menyusun kembali dan menguraikan bahan- bahan organic kompleks yang telah mati ke dalam senyawa anorganik sederhana.

Pelapukan atau weathering : perusakan batuan pada kulit bumi karena pengaruh cuaca (suhu, curah hujan, kelembaban, atau angin).

Pesisir : wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benua

Pneumatofora : akar nafas

Rantai makanan : pengalihan energi dari sumbernya dalam tumbuhan melalui sederetan organisme yang makan dan yang dimakan

Relung (Niche)                  : bagaimana membuat organisme hidup tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali organisme, tetapi juga peranannya dalam komunitas, misal kedudukan pada jenjang (trofik) makanan dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain yang ada

Sedimen trap : penjebak sedimen

Simbiosis                              : interaksi antara dua organisme yang hidup berdampingan.

Spawning grounD : tempat pemijahan organisme

Stomata : celah-celah pada epidermis tumbuhan

Suksesi : perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan

Suksesi Primer : terjadi bila komunitas asal terganggu.yang artinya kehidupan yang ada pada ekosistem tersebut   setelah perlakuan benar-benar dimulai dari nol, dan harus dimulai dari kerja organisme dengan segala perlakuan dari faktor pembatas fisik yang ada.

Suksesi sekunder : terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, baik secara alami     maupun buatan.

Kondisi Hutan Mangrove di Pantai Utara Cirebon Jawa Barat

Kondisi Hutan Mangrove di Pantai Utara Cirebon

Kerusakan hutan mangrove di pantai utara (pantura) Cirebon, Jawa Barat, kian luas. Saat ini hutan mangrove di Kabupaten Cirebon tinggal 70 hektare atau 5,4 kilometer (km) dari 54 km garis pantai.  Berdasarkan pantauan, dari 54 km garis pantai di wilayah Cirebon hanya ada 10% dari yang kondisinya baik dan masih ditumbuhi hutan mangrove. Selebihnya mengalami pendangkalan yang antara lain disebabkan tumpukan sampah serta abrasi. Seperti terlihat di pantai Pasindangan, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon. Abrasi sudah menggerus areal pertambakan. Air laut maju ke arah darat sekitar 50 meter. “Setidaknya sudah ada 10 hektare daratan yang hilang dalam tiga tahun terakhir ini,” kata Kepala Desa Pasindangan Misnadi.  Tidak hanya itu, sampah yang terdiri dari plastik, kain hingga kaleng pun menggunung di tepi pantai. Bahkan tidak hanya di Pantai Pasindangan, tumpukan sampah pun ditemukan di hampir semua muara sungai di sepanjang pantai Kabupaten dan Kota Cirebon. Antara lain di muara Sungai Bondet, Kesenden, Cangkol, Mundu hingga Gebang.
Sementara itu, Ketua Komunitas Pecinta Sungai Kabupaten Cirebon Bambang Sasongko mengungkapkan, akibat menumpuknya sampah dan abrasi membuat bibit bakau yang ditanam untuk penghijauan pantai hanya 30% saja yang bisa tumbuh. Menurut Bambang, saat ini di wilayah Cirebon hutan mangrove hanya ada di Kecamatan Pangenan dan Losari. “Luas arealnya hanya sekitar 70 hektare atau hanya 5,4 km garis pantai,” katanya. Sisanya masih berbentuk tanah kosong bekas tambak, bahkan perumahan penduduk. Di sisi lain, Kepala Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon Iskukuh mengungkapkan luas hutan bakau di pesisir Kabupaten Cirebon pada 20 tahun lalu masih ada 54 km. “Pembukaan tambak udang membuat hutan bakau berkurang drastis,” katanya.

Hutan mangrove di pesisir utara Cirebon sebelumnya memiliki produktivitas primer yang termasuk tinggi karena hutan mangrove dapat memberikan kontribusi besar terhadap kelangsungan hidup organisme yang hidup pada ekosistem tersebut. Namun, karena Kerusakan hutan mangrove di pantai utara (pantura) Cirebon, Jawa Barat, kian luas dikarenakan adanya pendangkalan akibat dari proses sedimentasi dalam skala besar dan luas dapat merusak ekosistem mangrove karena tertutupnya akar nafas dan berubahnya kawasan menjadi daratan. Selain itu, permasalahan lainnya adanya tumpukan sampah yang mengakibatkan penurunan kandungan oksigen yang terlarut dalam air, mengalami dekomposisi sehingga menghasilkan hidrogen sulfida (H2S) dan amoniak (NH3) yang keduanya merupakan racun bagi organisme yang hidup pada rantai makanan ekosistem tersebut.  Adapula sampah padat yang dapat mengakibatkan kematian pohon-pohon mangrove dan pertambakkan udang mengakibatkan terganggunya pula siklus rantai makanan, energi dan materi pada ekosistem tersebut.

Daun mangrove yang gugur  yang menghasilkan gula lewat proses fotosintesis hanya memakai energi matahari dan C02 dari udara pada tingkatan trofik ekosistem mangrove sebagai produsen. Kemudian detritus (pengurai) pada tingkatan trofik sebagai dekomposer pada ekosistem ini yaitu mikrobial menghancurkan atau menguraikan senyawa organik yang berasal dari penghancuran luruhan daun dan ranting mangrove yang jatuh ke substrat perairan pada ekosistem mangrove.  Daun mangrove yang mengalami perubahan komposisi senyawa di konsumsi oleh kepiting, kerang dan udang, pada tingkatan trofik sebagai konsumen tingkat II. Pada rantai makanan, aliran energi dan materi pada ekosistem ini juga timbul predasi yaitu siklus pemangsa dan dimangsa dimana ikan, burung bangau pada tingkatan trofik menempati posisi konsumen tingkat III.

Rantai makanan yang terdapat di ekosistem mangrove dengan rantai makanan di tambak

Konversi ekosistem mangrove menjadi tambak merupakan faktor utama penyebab hilangnya hutan mangrove dunia, tidak terkecuali di pesisir utara Jawa Barat ini. Di kawasan umumnya terdapat banyak pertambakan udang dengan salinitas tinggi sehingga ekosistem mangrove di kawasan ini mengalami perubahan dan penurunan secara perlahan. Mulai dari tingkatan trofik bukan lagi di awali dari daun mangrove yang gugur sebagai produsen tapi plankton yang mempunyai peranan penting dalam mengatur kelangsungan hidup biota perairan. Kemudian di konsumsi oleh oleh udang dimana pada tingkatan trofik sebagai konsumen tingkat II.

Bagan rantai makanan, alir energi beserta materi setelah terjadinya perubahan lahan konversi menjadi tambak udang


Pada perubahan ekosistem mangrove menjadi lahan tambak udang rantai makanan, aliran energi beserta materi juga mengalami perubahan. Dimana detrivitor  pada  lahan tambak udang ini adalah plankton, plankton terdiri dari fitoplankton  dan zooplankton. Dimana fitoplankton merupakan organisme memilki kandungan unsur hara yang berlebih dan ini sangat sesuai dengan kondisi yang kaya unsur hara dan kecendrungan kandungan oksigen terlarut yang rendah.  Selain itu ada zooplankton, organisme ini sering memangsa fitoplankton. Plankton pada lahan udang di konsumsi oleh udang, pada tingkatan trofik sebagai konsumen tingkat II.

Sumber :

http://www.mediaindonesia.com/read/2009/10/10/101831/123/101/Hutan-Bakau-di-Pesisir-Cirebon-Tinggal-54-Km-Garis-Pantai

http://www.bplhdjabar.go.id/index.php/kondisi-umum-daerah-jabar

Program Studi Ilmu Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Jatinangor

2010

FENOMENA EL NINO YANG DAPAT MENIMBULKAN KONVEKSI DI LAUT

Oleh : Indriani

NPM : 230210080061

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Program Studi Ilmu Kelautan

Universitas Padjadjaran


El nino

El nino merupakan kondisi yang muncul akibat adanya interaksi antara atmosfer dengan samudera di bawah pengaruh kontrol matahari. Suhu muka laut di sekitar pasifik tengah dan timur sepanjang ekuator dari nilai rata-ratanya dan secara fisik El nino tidak dapata terlihat. Saat terjadi El nino Angin Pasat Timuran melemah, artinya angin berbalik arah ke Barat dan mendorong wilayah potensi hujan ke Barat. Hal ini menyebabkan perubahan pola cuaca. Daerah potensi hujan meliputi wilayah Perairan Pasifik Tengah dan Timur dan Amerika Tengah. Masing-masing kejadian El Nino adalah unik dalam hal kekuatannya sebagaimana dampaknya pada pola turunnya hujan     maupun panjang durasinya.

Berdasar intensitasnya El Nino dikategorikan sebagai :

  1. El Nino Lemah (Weak El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +0.5º C s/d +1,0º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  2. El Nino sedang (Moderate El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator +1,1º C s/d 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.
  3. El Nino kuat (Strong El Nino), jika penyimpangan suhu muka laut di Pasifik ekuator > 1,5º C dan berlangsung minimal selama 3 bulan berturut-turut.

Proses Terjadinya El nino

Dalam penjelasan mengenai sistem sirkulasi udara pada wilayah Pacific tropik, Garbell (1947) menyatakan bahwa selama musim solstis selatan (2 September – 21 Maret), pergeseran ke arah selatan dari front intertropikal diikuti oleh adanya aliran ke arah selatan dari aliran balik ekuatorial (equatorial countercurrent) melalui ekuator sambil membawa udara hangat dan curah hujan ke wilayah pantai barat benua Amerika antara 3 o – 7o lintang selatan yang pada keadaan normal biasanya sejuk dan kering. Arus hangat yang mulai terjadinyai pada akhir waktu Natal inilah yang disebut sebagai El Niño (de Cristo).  Fenomeno El Niño terjadi dengan interval waktu yang tidak teratur.  Fenomena ini merupakan suatu variabilitas alami iklim yang menimbulkan suatu keadaan peningkatan yang nyata pada kelembaban dan ketidakstabilan udara dan pemunculan permukaan perairan yang hangat dari utara yang menyebabkan kerusakan yang parah sepanjang pantai Peru.

Para nelayan di perairan Pasifik lepas pantai Peru dan Ekuador telah berabad-abad mengetahui fenomena yang dikenal sebagai El Niño.  Setiap tiga sampai tujuh tahun antara bulan Desember dan Januari, ikan-ikan pada perairan lepas pantai di kedua negara tersebut menghilang, yang mengganggu secara nyata kegiatan perikanan. Selama kejadian El Niño, hubungan fisik antara angin, arus laut, suhu perairan laut dan suhu atmosfer, dan biosfer mengalami suatu keadaan yang terganggu; membentuk suatu pola cuaca yang menyimpang dari keadaan cuaca pada kondisi normal (NASA/EOS 1999).

Mendeteksi El Nino

El Nino adalah sesuatu yang alami dan telah mempengaruhi kehidupan di wilayah Samudra Pasifik selama ratusan tahun. Meskipun rata-rata El Nino terjadi setiap tiga hingga delapan tahun sekali dan dapat berlangsung 12 hingga 18 bulan, ia tidak mempunyai periode tetap. Kenyataan ini membuat El Nino sulit diperkirakan kejadiannya pada enam hingga sembilan bulan sebelumnya. Namun demikian secara umum terdapat dua parameter yang biasa digunakan untuk mendeteksi terjadinya El Nino :

  1. SOI (Indeks Osilasi Selatan)
  2. Suhu Muka Laut (SST)

Konveksi Yang Terjadi Di Laut

Berbeda dengan konduksi, konveksi merupakan suatu cara perpindahan energi yang sangat efektif di dalam atmosfer dan dilautan. Konveksi terdiri dari transfer energi melalui pergerakan cairan atau gas. Dalam pengetahuan tentang atmosfer, istilah adveksi digunakan untuk menunjukkan gerakan transfer horizontal sedangkan konveksi digunakan untuk transfer melalui pergerakan-pergerakan di udara vertikal. Contoh adveksi adalah angin panas dari arah selatan di amerika serikat sebelah utara, sedangkan pergerakan udara panas yang naik ke atas pada hari terik adalah suatu contoh konveksi. Di lautan, arus ke arah utara di teluk meksiko yang sejajar dengan garis pantai tenggara amerika serikat, adalah adveksi arah utara melalui pergerakan air laut.

Selain itu ada pula mengenai arus konveksi, dimana arus ini bergerak mendorong aliran material yang diakibatkan perbedaan tekanan, arah arus konveksi berupa siklus putaran. Seperti pada proses pemanasan air panas dalam bejana, dimana air yang ada di bawah akan didorong ke atas, kesamping kemudian kembali lagi ke bawah.

Konveksi Yang Terjadi  Di Atmosfer

Cara perpindahan massa, energi dan lain sebagainya bersama dengan bagian-bagian fluida yang memindahkannya. Konveksi juga disebut gerak udara vertikal ke atas. Konveksi memainkan peran yang penting di dalam atmosfer, terutama dalam distribusi vertikal energi di dalam atmosfer. Di antara tiga mekanisme perpindahan energi (konduksi, konveksi dan radiasi), konveksi mendominasi proses perpindahan energi di dalam atmosfer, karena atmosfer dikenal sebagai konduktor dan radiator panas yang buruk. Proses perpindahan energi dalam konveksi terjadi melalui perpindahan massa, yang membawa energi di dalamnya, dan mendistribusikan energi tersebut di dalam atmosfer. Konveksi di dalam atmosfer juga memainkan peran dalam distribusi uap air dan perubahan fase yang menghasilkan awan dan hujan, yang merupakan variabel penting dalam aplikasi meteorologi. Konveksi juga berkaitan dengan pembentukan badai yang mempengaruhi cuaca. Maka tidaklah mengherankan bahwa konveksi mempengaruhi semua variabel atmosfer.

Fenomena El Nino Dengan Proses Terjadinya Konveksi Di Laut

El Nino merupakan fenomena global. Pada saat tahun El Nino laut panas di Pasific bergeser ke timur menjauh dari daerah Indonesia, sehingga laut di Indonesia relatif lebih dingin, dan pembentukan awan hujan berkurang, sehingga di daerah Indonesia hujanya berkurang. Demikian juga arah angin yang membawa uap air lebih kuat bertiup ke arah timur menjauhi Indonesia dan menyebabkan konveksi kuat di Pasific yang menyebabkan banyak hujan di laut Pasifik

Suhu permukaan laut di wilayah Samudra Pasifik ekuator tengah (wilayah ini disebut Nino 3,4), sejak pertengahan Juni 2009 telah menunjukkan terjadinya peningkatan melebihi 0,5 derajat Celsius. Pada awal Juli 2009, suhu bahkan telah merangkak melebihi angka 0,8 derajat Celsius. Keadaan semacam ini digolongkan sebagai El Nino lemah (Consensus of Strong El Nino NOAA, Amerika Serikat, 2007). Peningkatan suhu di Samudra Pasifik yang melebihi kondisi normal ini berakibat pada pelemahan sirkulasi Walker. Sirkulasi Walker adalah sirkulasi angin zonal (sejajar lintang) timur-barat yang terjadi dari Samudra Pasifik Timur menuju Pasifik Barat (dekat wilayah Indonesia). Pada keadaan normal, berembus angin dari timur (Pasifik) ke barat (Indonesia). Angin yang berembus dari Pasifik ini membawa banyak uap air sehingga bila telah sampai di wilayah Indonesia maka angin tersebut akan bergerak naik (terjadi konveksi) sehingga terbentuklah awan dan hujan.

Namun, apabila terjadi El Nino, angin timur yang dihasilkan oleh sirkulasi Walker dari Samudra Pasifik menuju Indonesia akan melemah. Pelemahan angin timur ini akan menghentikan terjadinya konveksi di atas Indonesia, sebaliknya konveksi yang berlebihan terjadi di wilayah Pasifik. Tidak adanya konveksi di wilayah Indonesia akan berefek pada kekeringan yang berlebihan pada musim kemarau tahun ini.

Sumber :

NASA/EOS.  1999.  El Niño vs. La Niña.  Poster seri: NW-1999-04-004-GSFC.

Garbell, M.A. 1947.  Tropical and Equatorial Meteorology.  Pitman Publishing Corporation. New York. 237p.

http://www.rudyct.com/PPS702-ipb/02201/impron.htm

Balai Besar  Meteorologi & Geofisika Wilayah II

Pikiran Rakyat

www.dirgantara-lapan.or.id

www.e-dukasi.net

Thesis- Departemen Geofisika dan Meteorologi  ITB